
Safari lelaki mempunyai kenangan sendiri di kepala Saya. Mengingat segala printilan tentang s-a-f-a-r-i ini membuat Saya kadang tersenyum, tertawa, cemberut, mengeluh, memaki, dan tak jarang menitikkan airmata. Ada kenangan tersimpan dan memilih untuk tidak melupakan cerita globalnya. Masa lalu adalah masa lalu, punya tempat sendiri di dalam hati.
***
14 tahun lalu, saat Saya masih mengenakan seragam putih-biru dan baru merasakan menjadi 'anak gadis' bukan lagi hanya 'anak-anak' merupakan tonggak awal Saya memulai petualangan bersafari.
Saya menyebutnya petualangan. Ada tantangan disana yang tidak bisa Saya samakan dengan ketegangan memecahkan rumus aljabar atau hitungan ekonomi. Atau mendudukkan petualangan ini sama sejajarnya dengan saat-saat menegangkan ketika Saya harus duduk dan ikut menjadi peserta Cerdas-Cermat mewakili sekolah di Kabupaten.
Petualangan yang ini berbeda.
Bersafari kali ini membuat sebagian hormon oxytocin yang berada di dalam tubuh Saya bekerja dan efeknya sangat dahsyat ketimbang perasaan melambung karena berhasil menjadi Juara Kelas. Ntah kenapa, Saya menikmatinya dan menjadi addicted.
Dan 'safari lelaki' pun dimulai dengan beragam perasaan.
Kadang Saya naksir satu Anak Lelaki dan merasa tertantang mendapatkannya, lalu dalam hati berkata dengan setengah berjanji "Aku pasti bisa menjadi pacar dia." Hanya dengan keyakinan itu semua Anak Lelaki yang Saya inginkan pasti akan menjadi partner in crime. Walaupun tidak pernah bertahan lama.
Rekor terlama Saya untuk masalah bergandengan tangan atau masih saling melirik malu-malu dengan Anak Lelaki yang Saya suka sekitar 3 bulan. Terlama dengan berbagai alasan atau masih belum punya Anak Lelaki lain yang ditaksir.
Satu hal yang selalu Saya pegang adalah, Saya senang bersafari, Saya senang petualangan, Saya sosok pengejar, tapi Saya makhluk yang Anti-Menyatakan. Saya tidak juga senang menunggu, karena menunggu memakan waktu dan membosankan. Bagi Saya satu kesenangan akan menjadi kebahagiaan tersendiri.
Bukan ingin mengejar rating, tapi Saya selalu melihat Anak Lelaki sebagai bentuk taruhan. Taruhan pada diri sendiri untuk menaklukkan. Lebih kepada itu. Tapi, begitu Saya mulai merasa bosan dengan segera Saya akan meninggalkan mereka. Tanpa perlu alasan. Bagi Saya alasan hanya buat orang-orang yang tidak yakin untuk meninggalkan.
Kalau mau pergi, silahkan pergi saja!
Itulah Saya. Tanpa perlu mengarang berjuta alasan kepada Anak Lelaki yang hatinya Saya tinggalkan di closet, Saya terus mencari tantangan yang baru karena safari ini mengasyikkan.
Saya terus saja berpetualang dengan kriteria-kriteria yang berhasil Saya dapatkan tanpa pernah merasa itu sebagai sebuah malapetaka. Malapetaka durjana dunia yang akhirnya merubah pola hati dan menjauhkan Saya dari komitmen.
Ntahlah.
Bisa jadi kekacauan ini memang Saya reka sendiri karena takut nilai jual Saya di pasaran memudar kalau Saya mengikatkan diri dengan seseorang dalam waktu yang lama dan hanya memilih satu Lelaki saja untuk menemani Saya menghabiskan weekend. Masih ada ego yang terselip sangat kuat saat itu. Ego yang menguasai Saya bertahun-tahun setelahnya.
Selama masa bersafari dengan banyak Anak Lelaki, Saya memutuskan untuk mencoba safari lain di kelas Lelaki. Perjuangan ini sangat berat karena masih ada satu hormon lagi yang harus Saya coba bendung, hormon replace therapy. Dengan bertambahnya usia dan naik kelas dalam hal kebijakan memilih pilihan, sangat manusiawi ketika Saya memiliki gairah yang lebih dari sekedar bergandengan tangan atau sekedar berciuman tanpa french-kiss. Ini menyulitkan Saya. Saya kadang hampir mati kutu dan berusaha pasrah karena penasaran dengan rasanya. Pura-pura tidak belajar norma dan mengacuhkan pesan orang tua yang masih memegang teguh pola ketimuran.
Ingin sekali rasanya menikmati sekali saja dalam safari naik kelas ini. Tapi akal sehat masih bisa menguasai pikiran Saya yang masih menyisakan 1/4 rasionalitas. Minim akal, memang. Gairah menguasai 3/4 dari segala pikiran Saya. Ini membuat menderita.
Safari Lelaki membuat Saya harus lebih pintar menjaga diri. Berusaha tetap berada di trotoar agar aman, tapi berkali-kali hampir kepeleset kalau tidak segera ditangkap sama jaring-jaring akal yang kebetulan sedang patroli. Saya tahu, kalau pun Saya melakukan semua itu lebih kepada mengikuti naluri kebinatangan Saya yang sedang tidak bersahabat dengan Nilai Manusia.
Setelah sekian lama memutuskan lari karena ketakutan dari ikatan dan komitmen dengan satu atau titik safari yang Saya ikut sertakan dalam petualangan, Saya memutuskan mundur dari arena safari. Sudah cukup rasanya bersafari dari satu Anak Lekaki kepada Lelaki. Saya dengan berusaha sadar memilih berhenti meneruskan safari Saya kalau tidak mau hidup Saya porak-poranda sampai usia renta.
Usaha menerima kenyataan ini tidaklah mudah. Saya yang terlalu hedonis selama ini dengan mengagungkan dunia safari Saya harus pelan-pelan mengajak diri dan ego Saya berdamai. Dengan segala kesenangan di masa lalu atas petualangan dan adrenalin bersafari, Saya kini berbangga hati menanamkan plang besar di depan pintu taman safari kalau semua ini Saya lakukan bukan karena Saya sudah tidak laku lagi di kancah dunia per-Lelakian tapi lebih kepada karena Saya merasa sudah sedikit lebih waras.
Sekarang, Saya tidak berhenti total bersafari dan tidak akan pernah mau berhenti. Saya masih tetap bersama Lelaki. Tapi bedanya kali ini adalah, Saya hanya bersama Seorang Lelaki. Lelaki yang saya pilih dari sekian Lelaki yang pernah ikut terlibat dalam setiap safari Saya. Lelaki ini lah yang Saya pilih kelak untuk bisa berpetualang bersama dalam safari berbeda, SAFARI CINTA.
Bersama Lelaki Terakhir ini, Saya mengerti artinya berkomitmen dan belajar untuk tidak lagi terpedaya dan tergoda menjerumuskan diri ke dalam Safari Lelaki lainnya. Bukan karena bijak tapi lebih kepada karena tanggung-jawab sebagai konsistensi kedewasaan Saya.
Dan, Saya setiap hari tidak pernah lupa memasang spanduk di depan Taman Safari Saya dengan tulisan, "Mari Menjelajah Safari BersamaKu Sampai Akhir Dunia."
[xoxo, ln, 2009]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar